Python termasuk bahasa yang paling jauh dari upacara: tidak ada deklarasi class wajib, tidak ada function main() yang harus ada, dan tidak ada langkah kompilasi yang perlu dijalankan manual. Sebuah program Python hanyalah sebuah file teks dengan ekstensi .py yang dieksekusi interpreter. Justru karena sederhananya, pemula sering bingung: bagaimana cara menata file yang isinya makin lama makin banyak, dan bagaimana aturan memberi nama file yang benar. Chapter ini menjawab keduanya.

File Python adalah File Teks Biasa #

File .py adalah file teks biasa (plain text) yang dapat dibuka dan diedit dengan editor apa pun. Tiga fakta penting tentang file ini:

  • Ekstensi .py memberi tahu manusia dan editor bahwa file berisi kode Python; interpreter sebenarnya membaca isi file, bukan ekstensinya.
  • Encoding default adalah UTF-8 sejak Python 3, sehingga komentar dan string berbahasa Indonesia tidak butuh pengaturan tambahan.
  • Tidak ada langkah build manual — interpreter membaca file, menerjemahkannya menjadi bytecode secara otomatis, lalu mengeksekusinya setiap kali program dijalankan.

Karena hanya berupa teks, file Python juga mudah dibedah dengan tool lain: git dapat melacak perubahannya baris per baris, dan tool analisis dapat memeriksanya tanpa menjalankannya.

Anatomi File Python Sederhana #

File yang tumbuh sehat biasanya mengikuti urutan penulisan yang lazim: penjelasan singkat di paling atas (docstring), lalu kode utama, dengan komentar sebagai penjelas di sela-selanya. Berikut contoh file utuh beserta output-nya:

python
"""Menghitung estimasi waktu membaca sebuah buku."""

jumlah_halaman = 120
menit_per_halaman = 2

# hitung total waktu baca dalam menit
total_menit = jumlah_halaman * menit_per_halaman

print("Estimasi waktu baca:", total_menit, "menit")

Output yang Dihasilkan:

text
Estimasi waktu baca: 240 menit

Mari kita telaah peran setiap bagian file di atas:

  1. Baris 1 ("""Menghitung ..."""): docstring — dokumentasi singkat yang menjelaskan tujuan file. Docstring dibahas tuntas pada Chapter Komentar dan Docstring.
  2. Baris 3–4 (jumlah_halaman = 120): data yang dibutuhkan program didefinisikan lebih dulu agar pembaca tahu bahan bakunya.
  3. Baris 6 (# hitung total ...): komentar untuk manusia; interpreter mengabaikan baris ini sepenuhnya.
  4. Baris 7–9 (total_menit = ... dan print(...)): proses dan output. Statement dijalankan berurutan dari atas ke bawah.

Pada file yang lebih besar, urutan lazimnya adalah: docstring, lalu import module, lalu definisi, lalu kode utama. Pernyataan import akan dibahas pada Section Modules dan Packages.

Aturan Penamaan File Python #

Nama file menjadi bagian dari perintah terminal, jadi pilihan nama yang baik membuat hidup lebih mudah. Konvensi yang umum dipakai komunitas Python:

Nama filePenilaianAlasan
hitung_diskon.pyBaikhuruf kecil, kata dipisah garis bawah — konvensi utama Python
analisis-penjualan.pySah untuk skripaman dijalankan dari terminal, tetapi tidak bisa di-import sebagai module
HitungDiskon.pyKurang lazimgaya CamelCase biasanya disimpan untuk nama class
hitung diskon.pyHindarispasi memaksa tanda kutip saat mengetik perintah
1hitung.pyHindaridiawali angka, menyulitkan jika kelak di-import

Aturan praktisnya: gunakan huruf kecil seluruhnya, pisahkan kata dengan garis bawah, dan awali nama file dengan huruf.

Ketika File Tidak Ditemukan #

Kesalahan paling umum saat menjalankan program bukan pada kode, melainkan pada lokasi. Jika kita menjalankan nama file yang tidak ada di folder aktif, interpreter langsung menolak sebelum membaca satu baris kode pun:

bash
python3 halo.py

Output yang Dihasilkan:

text
python3: can't open file 'halo.py': [Errno 2] No such file or directory

Pesan ini bukan error Python di dalam kode, melainkan laporan interpreter bahwa file tidak ditemukan. Periksa dua hal: ejaan nama file, dan folder aktif terminal — perintah pwd menampilkan folder tempat terminal berada, dan ls menampilkan isi folder tersebut. Mekanisme menjalankan file ini sudah kita bahas pada Chapter Menjalankan File Python.