Instalasi sistem operasi adalah perubahan terbesar yang menimpa disk komputer kita, karena prosesnya menulis ulang tabel partisi dan berpotensi menghapus seluruh data lama. Karena itu, kualitas persiapan justru lebih menentukan keberhasilan daripada kecepatan tangan saat mengklik installer. Pada Chapter ini kita akan memeriksa kebutuhan hardware, mencadangkan data, mengunduh berkas ISO, memverifikasi integritasnya dengan checksum, lalu memetakan skema partisi dan mode boot. Seluruh langkah ini bisa dikerjakan tanpa risiko karena belum ada satu byte pun yang ditulis ke disk.
Memeriksa Kebutuhan Hardware #
Distribusi desktop modern menuntut spesifikasi lebih rendah daripada Windows 11, tetapi tetap ada batas bawah yang wajib dipenuhi. Tabel berikut merangkum kebutuhan tipikal untuk instalasi desktop yang nyaman:
| Komponen | Batas bawah | Agak lega |
|---|---|---|
| CPU | 2 core, 64-bit | 4 core |
| RAM | 4 GB | 8 GB |
| Ruang disk kosong | 25 GB | 50 GB |
| Flashdisk untuk media instalasi | 8 GB | 16 GB |
Dari dalam Linux, kita bisa memakai lscpu untuk prosesor, free -h untuk memori, dan lsblk untuk disk; dari Windows, Task Manager menampilkan informasi setara. Bila komputer kita jauh di bawah angka tabel, distro ringan seperti Debian dengan desktop XFCE masih bisa berjalan nyaman — jalur tersebut kita bahas pada Section Linux untuk Perangkat Lama.
Mencadangkan Data Sebelum Melangkah #
Seberapa pun matang persiapan, kesalahan memilih partisi saat instalasi tetap mungkin terjadi. Cadangan di media terpisah seperti harddisk eksternal adalah satu-satunya jaring pengaman yang benar-benar bekerja. Untuk menyalin data secara rapi, kita akan memakai rsync — alat yang menyalin berkas beserta atributnya dan hanya mengulang berkas yang berubah:
mkdir -p dokumen-penting
printf 'daftar belanja mingguan\n' > dokumen-penting/belanja.txt
printf 'catatan rapat tim\n' > dokumen-penting/rapat.txt
mkdir -p cadangan
rsync -a dokumen-penting/ cadangan/dokumen-penting/
ls cadangan/dokumen-pentingOutput yang Dihasilkan:
belanja.txt
rapat.txtMari kita telaah baris-baris di atas:
- Baris 1-4: menyiapkan folder
dokumen-pentingberisi dua berkas tiruan sebagai pengganti dokumen asli, plus foldercadanganyang berperan seperti harddisk eksternal. - Baris 5 (
rsync -a ...): menyalin isidokumen-penting/ke dalamcadangan/dokumen-penting/. Opsi-a(archive) mempertahankan waktu modifikasi dan struktur subdirektori. Garis miring di akhir sumber penting: dengan/rsync menyalin isi folder, tanpa/rsync menyalin folder beserta namanya. - Baris 6 (
ls ...): membuktikan kedua berkas sudah berada di lokasi cadangan.
Pada praktik nyata, sumbernya home directory kita (/home/budi/) dan tujuannya path seperti /media/budi/hdd-eksternal/. Kualitas cadangan bisa diuji dengan mengulang perintah rsync yang sama: putaran kedua berlangsung nyaris instan karena rsync melewati berkas yang tidak berubah. Dokumentasi lengkap rsync tersedia di https://rsync.samba.org
beserta daftar seluruh opsinya.
Mengunduh ISO dan Memverifikasi Checksum #
Berkas ISO adalah citra lengkap media instalasi: kernel, installer, dan paket dasar berada di dalamnya dalam format siap boot. Selalu unduh dari situs resmi — Ubuntu dari https://ubuntu.com/download dan Debian dari https://www.debian.org/download — bukan dari mirror tak dikenal yang isinya bisa diubah orang. Setelah unduhan selesai, integritasnya diverifikasi dengan checksum SHA-256: sidik jari 64 karakter yang dihitung dari isi berkas.
ISO asli berukuran ratusan megabyte, jadi mari berlatih menghitung checksum dengan berkas kecil yang berperan sebagai ISO:
printf 'isi file iso palsu untuk latihan\n' > ubuntu-24.04.5-desktop-amd64.iso
sha256sum ubuntu-24.04.5-desktop-amd64.isoOutput yang Dihasilkan:
018698df5c3b25b8d430edb9e32f527ab2461a0880c6be7fb0b71af1243fc917 ubuntu-24.04.5-desktop-amd64.isoSitus resmi juga menyediakan berkas SHA256SUMS berisi daftar hash beserta nama berkasnya, sehingga verifikasi cukup satu perintah dengan opsi -c:
printf 'isi file iso palsu untuk latihan\n' > ubuntu-24.04.5-desktop-amd64.iso
sha256sum ubuntu-24.04.5-desktop-amd64.iso > SHA256SUMS
sha256sum -c SHA256SUMSOutput yang Dihasilkan:
ubuntu-24.04.5-desktop-amd64.iso: OKPada latihan ini kita membuat SHA256SUMS sendiri; di dunia nyata berkas tersebut diunduh dari server yang sama dengan ISO-nya. Sekarang kita lihat tampilan ketika verifikasi gagal:
printf 'iso yang rusak saat diunduh\n' > ubuntu-rusak.iso
printf '1111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111 ubuntu-rusak.iso\n' > SALAH-SUMS
sha256sum -c SALAH-SUMS 2>&1Output yang Dihasilkan:
ubuntu-rusak.iso: FAILED
sha256sum: WARNING: 1 computed checksum did NOT matchStatus FAILED dan exit code 1 berarti isi berkas tidak cocok dengan hash yang diharapkan — unduhan korup atau berkas berubah. ISO seperti ini tidak boleh dipakai; unduh ulang sampai muncul OK. Dari sisi Windows, certutil -hashfile nama-file.iso SHA256 melakukan hal yang sama.
Memetakan Mode Boot dan Skema Partisi #
Istilah yang akan kita jumpai di installer adalah mode boot firmware dan skema partisi. Komputer modern memakai UEFI, sedangkan mesin lama memakai BIOS Legacy. Cara cepat memeriksanya: masuk ke setup firmware (biasanya F2 atau Del saat menyala); dari Windows, aplikasi msinfo32 menampilkan mode boot pada baris BIOS Mode.
| Aspek | UEFI | BIOS Legacy |
|---|---|---|
| Skema partisi disk | GPT | MBR |
| Partisi wajib | EFI System Partition (fat32) | tidak ada |
| Batas partisi utama | 128 | 4 partisi primer |
| Fitur tambahan | Secure Boot | — |
Rencana partisi minimal untuk Linux desktop cukup tiga baris:
| Partisi | Titik mount | Ukuran tipikal | Filesystem |
|---|---|---|---|
| EFI System Partition | /boot/efi | 512 MB – 1 GB | fat32 |
| Root | / | minimal 25 GB | ext4 |
| Swap | tanpa mount | sama besar RAM bila ingin hibernate | swap |
Partisi /home terpisah bersifat opsional; memisahkannya memudahkan instalasi ulang tanpa menyentuh data. Installer juga menawarkan LVM (Logical Volume Manager) yang membuat ukuran partisi mudah diubah di kemudian hari — materi Section Storage dan Backup.
Semua persiapan kini lengkap: hardware memadai, data aman di cadangan, ISO terverifikasi, dan rencana partisi jelas. Langkah berikutnya adalah mengubah berkas ISO menjadi flashdisk yang bisa di-boot — materi Chapter Membuat Bootable USB.