Elemen, atribut, form, tabel, semantic HTML — perangkatnya sudah lengkap kita kuasai sampai tahap validasi. Namun mengetahui elemen yang tepat hanya separuh pekerjaan. Separuh sisanya adalah kebiasaan sehari-hari: cara menata folder, menamai berkas, memilih antara div dan elemen semantik, menyusun indentasi, sampai memutuskan kapan berkomentar. Keputusan-keputusan kecil itu diambil puluhan kali setiap hari, dan merekalah yang menentukan apakah proyek yang tumbuh besar tetap terkendali atau justru semakin sulit dirawat.
Section ini merangkum kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi tujuh chapter yang saling menyambung. Kita mulai dari struktur file dan folder yang sehat, lalu melatih semantic elements sebagai default penulisan, mengenali dan mereduksi markup berlebihan (divitis serta classitis), menerapkan pemformatan yang mudah dibaca, dan menulis komentar secukupnya. Dua chapter terakhir membahas pengelolaan assets — gambar, font, dan media — serta cara menyiapkan markup agar siap distyle CSS tanpa dibongkar ulang. Seluruh contoh memakai satu studi kasus yang sama, website Kedai Kopi Siti, supaya setiap kebiasaan terlihat dalam konteks proyek nyata, bukan potongan rekaan.
Susun proyek HTML dengan penamaan file dan folder yang konsisten.
Buka → # Menggunakan Semantic ElementsTerapkan elemen semantik sebagai default, bukan pelengkap terakhir.
Buka → # Menghindari Markup BerlebihanKenali divitis dan classitis beserta cara mereduksinya.
Buka → # Menulis HTML yang Mudah DibacaTerapkan indentasi, pemformatan, dan konsistensi atribut.
Buka → # Menggunakan Komentar SeperlunyaTulis komentar HTML yang membantu, bukan menumpuk.
Buka → # Mengelola AssetsAtur berkas gambar, font, dan media dalam struktur folder yang jelas.
Buka → # Menyiapkan HTML untuk CSSRancang markup yang siap distyle: class bermakna, struktur logis, hook yang cukup.
Buka →