Sejak chapter pertama, kita sebenarnya menulis untuk dua pembaca sekaligus: manusia yang melihat halaman, dan pembaca layar yang menerjemahkan markup menjadi suara atau braille. Setiap keputusan markup yang kelihatannya sekadar rapi — heading berurutan, main di posisi tepat, label yang terpasang pada inputnya — diam-diam bekerja untuk pengunjung yang tidak melihat halaman, tidak memakai mouse, atau tidak mendengar audionya. HTML native yang benar sudah menyelesaikan bagian terbesar pekerjaan aksesibilitas; sisa sisanya adalah kebiasaan menulis dan kebiasaan menguji.

Section ini memperdalam topik-topik yang sebelumnya tersinggung dari sudut pandang aksesibilitas. Kita mulai dari kerangka berpikirnya: siapa yang dilayani aksesibilitas dan bagaimana pembaca layar membaca HTML. Setelah itu kita turun ke praktik per bagian: jenjang heading sebagai peta halaman, landmark dari elemen semantik, keputusan alt per jenis gambar, label dan instruksi form, navigasi keyboard, teks link, penanda bahasa, serta teks alternatif untuk audio dan video. Dua chapter penutup membahas kapan ARIA memang dibutuhkan dan bagaimana memeriksa hasil kerja kita secara berlapis — dengan keyboard, DevTools, dan pembaca layar singkat.