Hampir semua tool data engineering modern — Airflow, dbt, Great Expectations, hingga pustaka DuckDB dan PySpark — dipanggil dari Python. Sebelum menulis satu baris kode pipeline, kita harus memastikan interpreter Python sudah terpasang dan dapat dipanggil dari terminal. Masalah klasik yang sering menghambat pemula: satu komputer bisa memuat beberapa versi Python sekaligus, dan perintah python kadang tersedia, kadang tidak. Chapter ini membekali kita cara memverifikasi instalasi, membedakan python dari python3, dan memahami bagaimana sistem operasi menemukan interpreter yang tepat.

Memeriksa Instalasi Python #

Cara paling cepat memeriksa instalasi adalah menjalankan perintah python3 --version di terminal. Perintah tersebut meminta interpreter mencetak nomor versinya lalu selesai, sehingga aman dijalankan kapan pun.

bash
python3 --version
which python3

Output yang Dihasilkan:

text
Python 3.12.15
/home/z/.venv/bin/python3

Perintah which python3 menunjukkan lokasi berkas executable yang dipakai terminal. Lokasi tersebut berbeda-beda tergantung sistem: di Ubuntu biasanya /usr/bin/python3, sedangkan hasil di atas berasal dari lingkungan penulisan yang memakai virtual environment di folder .venv. Proyek ini memin Python 3.12, jadi pastikan dua angka pertama hasil versi Anda adalah 3.12.

Perbedaan python dan python3 #

Banyak distribusi Linux hanya menyediakan perintah python3 dan sengaja tidak menyediakan python. Kebijakan tersebut mencegah skrip lama yang ditulis untuk Python 2 berjalan tanpa sengaja di Python 3. Sebaliknya, instalasi dari python.org di Windows dan macOS biasanya menyediakan python sejak awal.

bash
which python
python --version

Output yang Dihasilkan:

text
/home/z/.venv/bin/python
Python 3.12.15

Pada lingkungan penulisan, perintah python tersedia karena virtual environment selalu menyediakan kedua nama sekaligus. Bila terminal Anda menjawab command not found untuk python, gunakan python3 — keduanya merujuk interpreter yang sama. Di Ubuntu, paket python-is-python3 dapat membuat python menjadi nama alternatif untuk python3.

Peran PATH dalam Pencarian Perintah #

Saat kita mengetik python3, shell tidak menghafal seluruh isi disk. Shell membaca daftar folder bernama PATH, lalu memindai folder tersebut dari kiri ke kanan dan memakai kecocokan pertama. Perintah which -a menampilkan seluruh kandidat yang ditemukan.

bash
which -a python3

Output yang Dihasilkan:

text
/home/z/.venv/bin/python3
/home/z/.venv/bin/python3
/usr/bin/python3
/bin/python3

Lingkungan penulisan memuat folder .venv/bin dua kali di awal PATH, sehingga dua baris pertama merujuk folder yang sama. Interpreter di .venv/bin menang pencarian karena posisinya paling kiri, meskipun /usr/bin/python3 juga tersedia. Perilaku inilah yang nanti dimanfaatkan virtual environment: menempatkan interpreter khusus di folder tersendiri agar berada paling depan dalam pencarian.

Kita juga dapat bertanya langsung kepada interpreter yang sedang berjalan, lewat atribut sys.executable:

bash
python3 -c "import sys; print(sys.executable)"

Output yang Dihasilkan:

text
/home/z/.venv/bin/python3

Hasil sys.executable penting saat men-debug: bila skrip berjalan dengan interpreter yang tidak Anda duga, nilai tersebut menunjukkan lokasi interpreter yang sebenarnya dipakai.

Memasang Python bila Belum Ada #

Bila python3 --version menjawab command not found, pasang Python 3.12 terlebih dahulu sesuai sistem operasi:

  • Ubuntu/Debian: jalankan sudo apt update lalu sudo apt install python3 python3-venv python3-pip. Paket python3-venv wajib disertakan karena akan kita pakai di chapter berikutnya.
  • macOS: pasang melalui Homebrew dengan brew install [email protected], atau gunakan instalasi resmi dari situs python.org.
  • Windows: unduh installer dari https://www.python.org/downloads/ , lalu centang opsi Add python.exe to PATH pada layar awal installer agar perintah python dikenali terminal.

Dokumentasi lengkap setiap platform tersedia di https://docs.python.org/3/ . Setelah instalasi selesai, ulangi pemeriksaan python3 --version hingga keluar nomor versi.

Interpreter yang siap hanyalah langkah pertama. Menginstal pustaka langsung ke interpreter sistem akan menumpuk dependensi antar proyek, dan di situlah Virtual Environment berperan.